Tradisi Panjang Jimat, Merawat Kearifan Lokal Cirebon

Tradisi Panjang Jimat, Merawat Kearifan Lokal Cirebon

CIREBON, KOMPAS.com – Keraton Kasepuhan Cirebon mendadak diserbu oleh warga desa. Bukan, bukan karena ada masalah. Masyarakat datang berbondong-bondong demi menyaksikan tradisi yang telah dirawat sejak ratusan tahun lalu, Panjang Jimat. Maka tak heran, bagi masyarakat Cirebon, tradisi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan. Mereka menikmatinya sejak mereka kecil hingga turun temurun seperti sekarang.

Pada dasarnya, Panjang Jimat dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi besar umat Islam, Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tahun ini jatuh pada 3 Januari 2015. Di Cirebon, bulan Rabiul Awal disebut juga dengan bulan Muludan. Ketiga keraton di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton Kanoman Cirebon, dan Keraton Kacirebonan ikut merawat tradisi ini. Ketiganya menyelenggarakan Panjang Jimat hari itu.

Kebetulan, saya berkesempatan melihat upacara yang menjadi magnet masyarakat ini di salah satu Keraton yang mengadakan, Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Sejak sore saya sudah di sana, kurang lebih 4 jam sebelum upacara berlangsung. Walaupun gelaran dilaksanakan malam hari, bukan berarti pada sore harinya kawasan ini sepi.

“Kami biasanya menyebut bulan Rabiul Awal sebagai bulan Mulud. Sebagai bulan yang dianggap istimewa, hadir juga Pasar Mulud di pelataran kawasan Keraton yang selalu ramai,” ungkap Wakil Ketua Panitia, Elang Rochadi.

Ramai menurut Rochadi memang benar adanya, di sepanjang jalan menuju Keraton menjadi pasar dadakan saat bulan ini, berbagai macam barang dagangan dijajakan. Mulai dari makanan, kerajinan tangan, pakaian, hingga barang-barang elektronik. Orang yang datang tentu saja ribuan. Tua, muda memenuhi pasar sampai kawasan Keraton. Pada sore seperti hari itu saja perlu upaya untuk dapat masuk dengan selamat. Selain ramai dan harus antre masuk, kawasan itu jadi rawan copet. Belum lagi hujan yang hampir setiap hari mengguyur kawasan ini. Tetapi tetap saja, pengunjung antusias datang.

“Puncaknya memang ada pada acara Panjang Jimat yang malam ini digelar. Mulainya pukul 7 malam tapi kalau bisa harus datang sebelum waktunya karena selain pintu ditutup, kawasan akan sangat penuh. Ribuan orang akan memenuhi tempat ini,” tambah Rochadi.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTIProsesi Panjang Jimat

Untuk masuk ke kawasan ini, diwajibkan untuk membeli tiket seharga Rp 8.000, lebih murah bila dibandingkan tidak ada acara. “Kalau tidak ada acara, harga tiket masuk mencapai Rp 15.000,” ujarnya.

Tetapi jangan kaget kalau banyak yang memaksa pengunjung bayar lagi dengan tameng, “Sumbangan seikhlasnya untuk kebersihan”. Ketika saya masuk, sudah dua kali menemukan rombongan yang meminta sumbangan sebelum sampai pada pintu masuk dengan tiket yang sebenarnya. Di gedung-gedung dalam kawasan juga seperti itu, Anda akan dimintai sumbangan sebelum masuk.

Prosesi Panjang Jimat

Prosesi upacara Panjang Jimat berlangsung 1,5 jam. Isinya, arak-arakan berbagai benda yang melambangkan kelahiran nabi. Arak-arakan dimulai sejak berada di Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan menuju Langgar Agung yang berjarak sekitar 100 meter. Pimpinannya, tentu Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.

Dalam arak-arakan, abdi dalem berbaris membawa peralatan upacara lengkap. Ada yang membawa obor, tunggul manik, dan lilin sebagai simbol kelahiran nabi di malam hari. Lalu ada juga yang membawa perangkat upacara lainnya. “Perangkat lain ialah manggaran, nadan, dan jantungan. Simbol yang melambangkan kebesaran dan keagungan yang diiringi dengan shalawat Nabi,” tutur Rochadi.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTIAbdi dalem membawa lilin saat gelaran Panjang Jimat sebagai simbolis nabi yang lahir saat malam hari

Belum lengkap, ada juga kelompok yang membawa air merah dan kembang goyang dengan isi boreh yang melambangkan air ketuban sebelum bayi lahir dan ari-ari setelah bayi lahir. Kelompok lainnya membawa air serbad (air dari gula aren) dalam guci yang melambangkan darah ketika bayi lahir. Selanjutnya ada pula perlengkapan upacara yang menjadi simbol empat unsur manusia, angin, tanah, api dan air. Tak lupa, mereka juga membawa piring-piring pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati yang berisi nasi dan lauk-pauk. Kalau dijumlahkan ada 7 jenis makanan yang menyimbolkan jumlah hari dalam satu minggu.

“Setelah rengrengan dibawa ke Langgar Agung, kemudian dilaksanakan shalawatan dan pengajian yang dilanjutkan dengan membagi-bagikan makanan yang disajikan di atas piring pusaka. Pertama-tama santapan ini diberikan pada abdi dalem, dan bila abdi dalem mau akan dibagikan lagi ke masyarakat yang hadir,” tuturnya.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTIIring-iringan saat prosesi Panjang Jimat

Dikunjungi Puluhan Ribu Masyarakat

Kalau di beberapa tempat, perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi sudah hilang, berbeda dengan di sini. Pengunjung datang akan merasakan betapa sakralnya prosesi tersebut. Masyarakat dari desa-desa hingga luar kota datang untuk menikmatinya.

“Sebagian dari mereka ikut berkontemplasi dan mengenang kelahiran Nabi. Sebagian lagi, sudah menjadikan acara ini bagai hiburan dan budaya yang menarik saja. Lagipula di acara-acara seperti ini, mereka bisa ketemu Sultan. Biasanya itu yang membuat antusias. Kalau warga desa, bahkan datang dengan membawa hasil bumi,” ulasnya.

Karena yang datang memadati acara tersebut mencapai puluhan ribu orang, maka wajar pada hari itu kalau kawasan ini menjadi kotor dan banyak sampah yang tertinggal. Tak hanya itu, saat prosesi dilaksanakan banyak pula yang saling dorong karena ingin melihat.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTISajian makanan dalam piring pusaka warisan Sunan Gunung Jati

“Sudah tiap tahun seperti itu, sampah tak bisa dihindari tapi nanti akan kami bersihkan lagi. Dorong-dorongan pun tak bisa dihindari, kadang ada yang pingsan juga. Tapi untuk meminimalisir hal seperti itu, sekarang kita sediakan layar besar tepat di halaman bangsal Prabayaksa. Kalau yang tak bisa lihat ke dalam, lihat saja ke layar,” ungkapnya.

Walaupun begitu, tersirat kebanggaan di mata Rochadi. “Kalau pengunjung terus ramai seperti ini berarti ada rasa antusias yang begitu besar. Kami cukup bangga dengan itu. Tradisi memang tak dapat dirubah, ini lah cara kami merawat tradisi ini agar terus lestari. Saya harap anak cucu sampai cicit kita masih terus dapat menikmatinya,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.