Silsilah Keluarga Bapak H. Restal Sukarta dan Ibu Santira

Silsilah Keluarga Bapak H. Restal Sukarta dan Ibu Santira

Silsilah Keluarga Bapak H. Restal Sukarta dan Ibu Santira

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb. Dengan Rahmat dan Ridho yang selalu diberikan oleh Allah SWT kepada saya dan keluarga, Semoga saya dan keluarga selalu diberikan rasa syukur atas apa yang telah diberikan. Pada kesempatan ini penulis ingin mencoba menggali mengenai apa yang harusnya diketahui oleh setiap generasi di dalam sebuah keluarga yaitu “Sisilah Keluarga”.

Sisilah keluarga sangatlah penting untuk mengetahui dari mana asal usul kita berasal, untuk itu diperlukan adanya perekaman atas segala informasi mengenai asal usul keluarga sehingga kita tidak kehilangan jati diri.

Seiring perkembangan zaman yang semakin maju, untuk sebagian masyarakat Indonesia sisilah keluarga menjadi sangat tidak penting karena kurangnya kesadaran akan pentingnya hidup belajar dari masa lalu. Salah satu faktor penyebabnya adalah kehidupan yang sulit di masa lalu dan kesadaran akan pentingnya siapa leluhur kita.

Itu mungkin sebabnya untuk sebagian orang saat memberikan nama seorang anak dengan menambahkan nama belakangnya dengan nama orang tuanya sehingga generasi selanjutnya mengetahui siapa leluhurnya.

Tulisan ini merupakan kesempatan saya sebagai generasi ke-3 jika dihitung dari generasi bapaknya bapak saya (mbah) hal ini tentunya tidak tertutup kemungkinan bagi saya untuk mencari informasi lebih jauh mengenai siapa keluarga saya dan keturunan-keturunannya.

Semoga apa yang ingin disampaikan penulis disini dapat menjadi manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca sisilah keluarga ini.

                                                                                      Cirebon, 05 Agustus 2013

                                                                                               Salam Hormat,

                                                                                                Fandy Rasyid

LATAR BELAKANG

Keluarga adalah kelompok terkecil di dalam sebuah masyarakat. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting bagi kemajuan suatu Bangsa dan Negara. Tanpa adanya peranan keluarga maka dapat dipastikan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara akan mengalami kemerosotan moral.

Pendidikan pertama yang diberikan keluarga sangatlah penting, karena apa yang dipersiapkan di dalam sebuah keluarga akan menjadi ujung tombak dalam menangkal berbagai hal negative yang berasal dari lingkungan di luar (Masyarakat). Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk pertumbuhan manusia menjadi seorang yang berguna di masyarakat.

Apakah anda dapat membayangkan? apa yang akan terjadi? jika setiap keluarga di unit terkecil ini sudah tidak peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka. Di dalam benak saya kondisi negative akan menyeliputi kehidupan di masyarakat. Tatanan moral dan nilai-nilai luhur akan hilang dari kehidupan bermasyarakat.

Seorang anak yang tidak peduli terhadap orang tuanya, seorang anak yang memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, seorang anak muda yang tidak menghormati orang-orang yang sudah tua, saling tidak peduli terhadap tetangga (Hidup semau gue J) tidak ada lagi manusia yang saling menghargai dan menghormati kehidupan orang lain. Maka hancurlah hidup ini….

Agar kondisi di atas tidak terjadi maka diperlukan peran aktif dari kedua orang tua untuk mendidik anaknya dengan kasih sayang dan ilmu yang bermanfaat. Apa yang orang tua tunjukan kepada anak-anak mereka adalah pelajaran yang akan diteruskan oleh anak-anak mereka dalam menjalankan kehidupan mereka setelah lulus dari tempaan orang tua. “Ibarata anak panah yang dipersiapkan dengan matang, dengan memililih bambu yang sudah tepat, dibelah, diruncingkan ujung-ujungnya, di timbang-timbang agar beratnya seimbang, di serut agar halus dalam menembus udara, sekiranya telah siap, maka orang tua akan melepaskan anak panah tersebut dengan busur disertai dengan doa maka terlepaslah anak panah tersebut menuju kehidupan masyarakat”. Setelah anak panah terlepas, orang tua hanya bisa berharap yang terbaik untuk sang anak dengan doa menyertainya.

Pengalaman-pengalaman orang tua ini merupakan sejarah yang sering diceritakan kepada anak-anak penerus mereka dengan harapan anak-anak akan mengerti mereka keturunan siapa dan dari mana mereka berasal itulah yang disebut sebagai Sisilah Keluarga, akan tetapi apa yang diceritakan dari generasi ke generasi terkadang mengalami penurunan makna yang ingin disampaikan. Tentunya hal ini disebabkan karena adanya kejadian-kejadian yang tidak ingin diceritakan karena merupakan sebuah aib (kejadian yang memalukan) sehingga anak cucu hanya perlu mengetahui sesuatu yang sifatnya positif atau membanggakan saja. Padahal sesungguhnya kehidupan ini adalah sejarah, apa yang kita perbuat hari ini akan menjadi sebuah sejarah di hari esok dan sejarah itu pasti akan berulang.

Dengan demikian diperlukan adanya keterbukaan di dalam menyampaikan pelajaran kehidupan yang telah dialami oleh orang tua kepada anak-anak mereka demi tercapainya perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan semakin baik bahkan kalau bisa mendekati kesempurnaan seperti kehidupan yang dicontohkan oleh rosul dan nabi kita Muhammad SAW.

Semoga dengan apa yang ingin penulis tulis di dalam buku ini, akan menjadi sumber informasi yang dapat membantu dan menjaga apa yang ingin disampaikan oleh orang tua kepada generasi-generasi penerusnya tanpa adanya pengurangan makna. Sehingga generasi penerus dapat selalu belajar dan memperbaiki bahkan meningkatkan apa yang sudah dilakukan oleh generasi sebelumnya untuk menjadi lebih baik atau semakin baik.

                                                                                                  Cirebon 10 Agustus 2013

                                                                                                            Fandy Rasyid

Lev 1. Silsilah Keluarga H. Resta Sukarta

Bapak Restal Sukarsa (Bapak Empeng) berasal dari wangkelang, bapak ini memiliki ciri-ciri fisik yang tinggi dan besar. Beliau memiliki watak yang sabar dan tegas namun pendiam. Tetapi jika dimasyarakat beliau sangat dikenal, karena memang tugasnya sebagai seorang polisi yang memiliki keahlian sebagai resersi.

Dalam setiap menjalankan tugasnya sebagai reserse beliau jarang sekali menggunakan pakaian dinas, lebih sering menggunakan pakaian biasa, sehingga mempermudah tugasnya dalam pencarian orang yang menjadi target buruannya. Biasanya jika sudah dinas bapak ini tidak akan ada dirumah kurang lebih 2 hari hingga seminggu.

Dulu tuh waktu bapak pulang jika di dekat rumah ada tukang becak yang berkumpul kemudian maen judi sudah dapat dipastikan akan langsung bubar jalan. Kalau tidak mau dihancurkan mereka, hehehe J

Jika sedang berada dirumah beliau ini sangat suka sekali makan dengan sayur asem dan sambal, tapi kalau sudah kenyang dan ketiduran wah siap-siap deh kuping terasa berdengung mendengarkan suara ngorok si bapak yang sangat keras. Ya begitulah keseharian bapak.

Tentunya sangat berbeda dengan keseharian emak atau ibu namanya (Ibu Santira) Beliau berasal dari panongan memiliki tipikal tegas dan keibuan serta selalu berusaha untuk melindungi anak-anaknya, suka marah kepada anak-anaknya bukan karena sebal tetapi lebih kepada untuk memberikan pelajaran mana yang baik mana yang buruk.

Jika Bapak orangnya sabar, maka ibu orangnya lebih tegas karena menempatkan posisi sebagai seorang bapak jika bapak sedang pergi dinas sebagai polisi.

Sebelum beliau pergi selama-lamanya bapak pernah berucap “Jangan sampai anak cucu ada yang menjadi polisi sudah cukup bapak saja” dan “Kalau bisa anak cucu jangan ada yang berpolitik karena mereka itu jorok, jahat, licik. Dengan saudara saja memusuhi”.

Dari kesembilan anaknya ini bapak ingin sekali memiliki seorang anak yang dapat menjadi seorang sarjana karena rata-rata anak-anaknya hanya lulusan sma, untuk itu saya sebagai anak terakhir berusaha keras untuk memenuhi impian tersebut. Ibu pun berusaha membantu segenap upaya dan daya untuk dapat mewujudkan impian bapak. Walaupun di saat saya sudah menjadi sarjana bapak ternyata sudah berpulang ke Allah SWT, apa yang ingin beliau capai dan cita-citakan sudah terpenuhi.

Cerita mengenai bapak dan ibu ini tidak terlepas dari kebiasaan beliau yang suka pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat, apalagi bapak yang sangat suka sekali pergi ke masjid cipta rasa, kesepuhan untuk beribadah shalat baik subuh, zuhur, asar, magrib dan isya tentunya jika beliau tidak dinas. Sedangkan di hari minggu bapak dan ibu sering pergi berdua untuk mengaji di salah satu pesantren disekitar Cirebon.

Oh ya ada satu hal yang harus di informasikan mengenai kehidupan pernikahan Bapak Restal Sukarta ini yaitu bahwa beliau memiliki istri selain Ibu Santirah yaitu Ibu Ijoh yang berasal dari cipejeh, hanya saja dari Ibu Ijoh ini bapak tidak memiliki keturunan. Suka tidak suka inilah kenyataan yang terjadi di keluarga Bapak Restal Sukarta dan Ibu Santirah, semua ini tentunya pelajaran yang sangat berharga bagi kita penerus generasi dari Bapak Restal Sukarta dan Ibu Santirah, karena “SEJARAH PASTI BERULANG”. Tinggal menentukan apakah akan mengulang sejarah atau membuat sejarah yang baru dengan kehidupan yang lebih baik tentunya.

Ada beberapa nasehat yang bapak ibu tinggalkan untuk saya dan penerus saya yaitu sebagai berikut

  1. Jangan tinggalkan shalat
  2. Sayang terhadap anak ponakan
  3. Baca yasin kirim doa ke bapak, emak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.