Membongkar Dapur Di Balik Tiket Murah AirAsia

Membongkar Dapur Di Balik Tiket Murah AirAsia

Belajar dari AirAsia yang mampu menawarkan tiket murah kepada penumpangnya menyebabkan perusahaan ini menjadi salah satu contoh pengelolaan bisnis penerbangan yang professional, terlepas dari tragedi QZ8501 dan isu jual beli slot penerbangan yang melibatkan beberapa perusahaan penerbangan di Indonesia. Patut kita pelajari kenapa perusahaan milik Tony Fernandes ini mampu bertahan dan berkembang menjadi perusahaan kelas dunia.

Pertama ialah penggunaan satu pesawat dengan frekuensi tinggi. Salah satu kunci untuk menekan biaya operasional adalah dengan mempergunakan pesawat sesering mungkin. Menurut airasia.com, pesawat harus mulai dioperasikan sepagi mungkin dan diakhiri pada dini hari. Durasi pesawat kembali mengudara adalah hal yang kritis. Pastikan bahwa pesawat seminimal mungkin berada di darat, karena pesawat itu akan menghasilkan uang jika berada di udara. Frekuensi penerbangan pesawat AirAsia adalah 12 jam per hari di udara. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pesawat reguler yang rata-rata 8 jam per hari.

Kedua, tidak ada pelayanan gratis. Fokus bisnis maskapai bertarif rendah adalah membawa penumpang sampai ke tujuan. Hal lain adalah dianggap suatu kemewahan, yang bisa dibebankan dengan biaya relatif rendah.

Ketiga, sistem operasi sederhana. Maskapai dengan tarif rendah harus hanya mempunyai satu tipe pesawat saja. Jadi Pilot, pramugari dan pramugara, serta mekanik hanya dilatih untuk satu tipe pesawat saja. Selain itu juga tidak ada kelas bisnis dan ekonomi. Di mana artinya semua penumpang, baik itu berkocek tebal atau tidak, mendapat posisi tempat duduk dan pelayanan setara.

Keempat adalah fasilitas yang amat standar. AirAsia lebih memilih terminal atau bandara yang khusus untuk maskapai dengan tarif rendah. Sebagai contoh di Kuala Lumpur yaitu pemilihan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) dibanding Kuala Lumpur International Airport. Selain itu, AirAsia tidak mempunyai Lounge yang mencerminkan kemewahan.

Kelima ialah jaringan yang pendek. Untuk menghemat biaya, maskapai penerbangan murah tidak pernah menggunakan sistem transit. Apalagi bekerjasama dengan maskapai lain untuk penerbangan yang melibatkan transit. Pada umumnya, penerbangan AirAsia kurang dari 3 jam. Mereka juga tidak pernah bekerjasama dengan maskapai lain untuk melanjutkan tujuan penerbangan atau membuat label pada barang bawaan bagasi dan mentransfernya dari satu pesawat ke yang lain.

Keenam, sistem distribusi yang hemat. Ongkos distribusi adalah hal yang seringkali dilupakan oleh maskapai dengan penerbangan tarif standar. Biasanya, maskapai dengan tarif standar akan bergantung pada agen travel untuk menjual tiketnya. Namun, menurut AirAsia itu hanyalah memboroskan ongkos distribusi. Oleh karena itu, AirAsia bekerjasama dengan penyedia kartu kredit. Selain itu, maskapai asal Malaysia ini juga mengedepankan penjualan melalui internet. Terbukti penjualan melalui internet meraup 65 persen dari total konsumen. AirAsia juga membangun sedikit kantor penjualan dan tidak bekerjasama dengan agen travel. Bahkan, tiket juga bisa dibeli melalui call centre.

Demikianlah beberapa faktor kenapa air asia dapat menjadi perusahaan kelas dunia dengan konsep “Now Every One Can Fly” Bukan karena hanya dapat mengeffisienkan bisnisnya namun pengelolaan bisnis yang tepat dapat memberikan efek yang luar biasa terhadap bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.