Mayweather and Mourinho

Mayweather and Mourinho

Kecuali Anda tinggal di gua tanpa koneksi internet, anda seharusnya tahu bahwa even olahraga terbesar sejagat pekan ini adalah partai tinju antara Floyd Mayweather Jr. dan Manny Pacquiao. Setelah bertahun-tahun tertunda akibat negosiasi yang mandek karena berbagai faktor, akhirnya pertandingan tinju dengan bayaran termahal sepanjang sejarah ini akan digelar juga akhir pekan nanti di Las Vegas.

image

Pendapat umum menyayangkan mengapa partai mega bintang seperti ini baru digelar tahun 2015 ketika kedua petinju tak lagi berada di usia emas (Mayweather tahun ini 38 tahun, Pacquiao 2 tahun lebih muda). Walau begitu nama besar yang melegenda dari keduanya membuat bagaimana pun duel ini tetap dinanti meski mereka tak lagi berada di kondisi puncak. Serupa namun tak sebangun dengan derby AC Milan dan Inter Milan lah. Meski sedang awut-awutan dan tak akan seseru pertemuan keduanya 1 dekade silam, tetap saja punya prestise tersendiri.

image

Kedua petinju ini tak bisa lebih kontras lagi dalam segala sisi. Kecepatan dan kebrutalan pukulan Pacquiao melegenda. Gaya bertarungnya yang mirip preman berkelahi di jalan itu telah menganvaskan banyak nama besar, termasuk mempensiunkan Oscar De La Hoya dan Ricky Hatton. Pacquiao punya dosanya sendiri di masa lampau, namun secara umum ia dianggap sebagai idola banyak orang. People’s champ. Di luar ring ia ramah senyum. Ia adalah anggota kongres Filipina, merilis album sebagai penyanyi, menjadi pemilik sekaligus pemain klub basket profesional di negara, dan berbagai aksi lain yang meneguhkan statusnya sebagai orang Filipina paling populer sepanjang sejarah. Pacquiao adalah personifikasi kesuksesan wong cilik yang meniti karir tinju sejak masih jadi pekerja konstruksi bangunan di Manila hingga jadi superstar global.

Latar belakang Mayweather pun tak berbeda karena tumbuh besar dalam kemiskinan. Namun banyak hal yang membuat sulit untuk jatuh cinta seketika pada Mayweather. Dari gaya bertinju misalnya. Petinju yang gemar mengobral pukulan dengan sesekali mengeluarkan killing punch adalah mimpi basah semua promotor dan penonton tinju. Ini sama sekali bukan gaya Mayweather yang seorang counter-boxer. Ia lebih berfokus pada pertahanan dan efektif dalam melepaskan pukulan. Mereka yang mengharapkan adu jotos seru akan bosan melihat aksi Mayweather.

Hal lain yang membuat orang malas menyukai Mayweather adalah kelakuannya di luar ring. Ia bermulut besar dan tukang cari gara-gara. Dosa terbesarnya adalah ia tercatat 7 kali tersangkut kasus penganiayaan yang membuatnya harus mendekam di penjara. Meski sebagai atlet kehebatannya tak terbantahkan, ada sesuatu yang dilematis secara moral untuk menjadi penggemar Mayweather, seperti halnya menjadi fans John Terry.

Walau begitu, ada satu hal yang membuat posisi Mayweather sebagai atlet nomor satu tak tergoyahkan meski sebagai manusia banyak tanda tanya bisa dialamatkan kepadanya: gelar juara. Ia memenangkan 10 gelar juara di 5 kelas yang berbeda dan punya sesuatu yang tak dimiliki Pacquiao: Mayweather belum pernah kalah sepanjang karir tinju profesionalnya.

Maka ketika Mayweather mengklaim dirinya yang terhebat sepanjang masa, para pembencinya pun sebenarnya tak punya amunisi yang cukup untuk membantahnya.

***

image

Saya selalu merasa bahwa Floyd Mayweather Jr. adalah Jose Mourinho dalam celana tinju, terlebih usai Chelsea mengalahkan Manchester United 1-0 dalam pertandingan di mana para pemain The Blues enggan memegang bola. Bagaimana Chelsea bergantung pada serangan balik dan membiarkan United mendominasi pertandingan adalah sesuatu yang persis selalu dilakukan Mayweather di ring. Dalam tinju, yang dihitung poin bukanlah jumlah pukulan yang dilepaskan, tapi pukulan yang mendarat masuk. Tak peduli berapa ratus pukulan yang dilepaskan, jika tak ada yang kena dengan bersih di kepala lain, maka akan jadi sia-sia.

Dalam partai terakhir Mayweather melawan Marcos Maidana, misalnya. Maidana melepaskan 800 pukulan, sedang Mayweather hanya setengahnya. Tapi 65 % pukulan Mayweather adalah pukulan bersih yang membuatnya dinobatkan sebagai pemenang di akhir laga.

Inilah filosofi Mourinho yang membuatnya memenangi banyak gelar juara. Tidak seperti para pengkritiknya yang tidak paham bahwa sepak bola bukanlah ajang kecantikan, Mourinho, seperti halnya Mayweather, adalah pemuja efektivitas. Fans United bisa saja marah-marah karena Chelsea memarkir bis di kandang sendiri, namun ketika faktanya adalah Chelsea bisa mencetak gol dan United tidak, argumen soal estetika menjadi sesuatu yang tidak valid.

Atas nama efektivitas juga Chelsea pada pekan lalu menahan imbang Arsenal tanpa gol di Emirates. Lagi-lagi Mourinho mendapat kritik karena dianggap terlalu defensif dan datang dengan misi semata untuk mendapatkan hasil seri. Sejujurnya, Chelsea jauh lebih ofensif ketika melawan Arsenal dibanding ketika menjamu United (Dalam 15 menit pertama di babak kedua, Chelsea unggul ball possesion hampir 60 %). Tapi ketika Chelsea mulai membangun tembok untuk mengamankan satu poin hingga peluit akhir, fans Arsenal pun berteriak “Boring, boring Chelsea”.

Entah mengapa penonton sepak bola sulit untuk mengapresiasi pertahanan yang solid sebagai sebuah seni. Tahun lalu saya menulis di kolom ini soal arogansi para pemuja sepak bola ofensif yang menganggap bahwa menyerang adalah satu-satunya filosofi legal di olahraga ini. Padahal, membangun permainan defensif yang kokoh sama susahnya, atau bahkan lebih susah dibanding dengan membangun penyerangan.

Dalam menerapkan pertahanan inilah Mourinho dan Mayweather terlihat seperti kakak adik secara ideologis.

Mayweather selalu menunggu lawan memukul lebih dulu. Ia punya pertahanan yang solid dengan teknik shoulder-roll: tangan kanan di sebelah kepala dengan bahu kanan sedikit dimajukan untuk memblok pukulan lawan, sedang tangan kiri horizontal di depan tubuh untuk melindungi ulu hati. Ini berbeda dengan petinju kebanyakan yang biasanya bertahan dengan dua tangan di depan kepala. Kecepatan yang ia miliki membuat Mayweather bisa mengelak ke kanan-kiri jika lawan menghujaninya dengan pukulan.

Strategi defensif Mourinho pun serupa. Bukan kebetulan 3 dari 4 starter lini belakang Chelsea masuk ke PFA Team of the Year. Seandainya Chelsea adalah petinju, maka back-four adalah tangan kanan yang melindungi kepala. Ketika Mourinho sedang mood untuk memarkir bis, maka ia akan menginstruksikan 3 gelandang untuk berdiri di depan kotak penalti, yang membuat ada 7-8 pemain Chelsea di belakang ketika lawan membangun serangan. Jika dicocokkan dengan skema Mayweather, para gelandang yang drop deep ini adalah tangan kiri yang menjaga ulu hati. Sama seperti Mayweather yang tahu memaksimalkan momentum dan melakukan counter-punch dengan kecepatannya, Mourinho pun memiliki counter-punch yang sama dalam diri PFA Player of the Year, Eden Hazard.

Yang sedikit berbeda mungkin adalah ketika Mayweather selalu menggantungkan diri pada counter-boxing, sesungguhnya Mourinho tidak melulu memarkir bis dan hanya bertahan total saja. Seperti yang ia katakan usai partai melawan Arsenal, timnya memiliki selisih gol terbaik dan menjadi tim kedua dengan jumlah gol terbanyak di Premier League, hanya kalah dari Manchester City. Tuduhan bahwa Mourinho hanya bisa bermain defensif sebenarnya tak lebih dari sekadar logika guilty by assosiation yang harus ditanggungnya.

Mayweather selalu bertinju dengan pintar, bahkan hingga ke faktor non-teknis seperti perkara memilih lawan. Ia tak akan mau bertarung dengan petinju yang ia tahu punya kans besar untuk mengalahkan dirinya – salah satu teori konspirasi mengapa baru sekarang ia mau melawan Pacquiao adalah karena ia takut melawan Pacquiao di usia primanya sama saja bunuh diri.

Mourinho pun tak kalah Machiavelli-nya dengan Mayweather. Sebagai contoh, bukan sekali dua kali Mourinho menginstruksikan agar rumput stadion dibiarkan memanjang sedikit ketika berhadapan dengan lawan yang mengedepankan short pass dan possession football.

Soal adu bacot dan perang psikologis, Mayweather dan Mourinho bisa saling mengagumi. Mayweather adalah orang yang datang ke konferensi pers Ricky Hatton (yang fan Manchester City) dengan jersey Manchester United dan masuk ke ring memakai topi sombrero ketika berhadapan dengan Oscar De La Hoya yang keturunan Meksiko. Aksi nyolot Mayweather pun tak punah jelang partai melawan Pacquiao: ia menjual baju bertuliskan The Money Team (ia menjuluki dirinya sendiri Money) dengan gambar bendera Filipina. Rasanya tak perlu dituliskan di sini Mourinho sudah pernah berulah apa saja, tapi saya yakin bahwa Mayweather adalah seseorang yang akan dengan senang hati dijamu makan malam oleh Mourinho.

Chelsea akan dinobatkan sebagai juara Premier League 2014/2015 jika menang melawan Crystal Palace hari Minggu nanti. Mereka yang mengatakan bahwa keindahan lebih penting dari kemenangan patut menyesali fakta bahwa tidak ada piala khusus untuk permainan indah.

Ini mungkin yang membedakan tinju dan sepak bola. Mayweather mendapat julukan Pretty Boy karena pertahanan solidnya membuat wajahnya selalu relatif bersih dari luka usai laga.

Selain penggemarnya mereka, tak akan ada yang akan melabeli sepak bola Chelsea dengan “pretty”.

Sumber :detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.