Kisah Kartosoewirjo nyaris ditangkap pasukan Idjon Djanbi

Kisah Kartosoewirjo nyaris ditangkap pasukan Idjon Djanbi

Merdeka.com – Pemberontakan Darul Islam yang dipimpin Kartosoewirjo membuat pusing Komandan Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Evert Kawilarang. Hal itu yang akhirnya mendorong Kawilarang mendirikan sebuah pasukan elite untuk menumpas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Saat itu pasukan reguler sulit bergerak lincah di hutan Jawa Barat yang masih sangat lebat.

Kawilarang pun memanggil Idjon Djanbi dan memaparkan rencananya, sekaligus meminta Idjon menjadi pelatih tahun 1952. Idjon menerima tawaran itu. Maka dia menjadi pelatih sekaligus komandan pasukan elite yang awalnya bernama Kesatuan Komando TT III Siliwangi.

Mayor Idjon Djanbi adalah pensiunan Korps Speciale Troepen, pasukan komando Belanda. Nama aslinya Kapten Rokus Bernandus Visser.

Dia bersimpati pada perjuangan Republik Indonesia. Visser meninggalkan dinas ketentaraan, masuk Islam lalu mengubah namanya menjadi Mohammad Idjon Djanbi. Dia lalu menikah dengan wanita Sunda dan jadi petani bunga di Lembang.

Latihan yang diberikan sangat berat. Dari 400 calon siswa komando, kurang dari setengah yang dinyatakan lulus.

Setelah latihan, mereka ditugaskan untuk menangkap Kartosoewirjo. Pasukan itu dipimpin Letnan Satu Fadillah. Mayor Idjon Djanbi turut serta bersama Komandan TT III Siliwangi Kolonel Kawilarang.

Dalam buku memoarnya, Kawilarang menceritakan pengejaran di bulan Oktober 1955 itu. DI/TII bukan gerilyawan sembarangan, mereka sudah bertahun-tahun hidup di hutan. Sebagian masyarakat juga mendukung gerakan itu sehingga mereka mudah bergerak.

Kawilarang menemukan fakta Kartosuwiryo selalu mendirikan kamp di tengah pepohonan bambu. Jadi saat musuh mendekat mereka tahu dari gesekan di rumpun bambu. Namun saat itu Idjon jatuh sakit, tapi pengejaran terus berlangsung.

“Mayor MI Djanbi jatuh sakit dalam patroli ini dan harus digotong,” beber Kawilarang.

Pengejaran itu sudah sangat dekat dengan Kartosoewirjo. Tapi saat itu nasib baik berpihak pada sang Imam. Banjir besar menghalangi pasukan Komando itu bergerak. Sebenarnya jika mereka menerjang maju, mungkin mereka bisa menangkap Kartosoewirjo.

“Kami tidak mau mengambil risiko. Beberapa bulan sebelumya dua anggota komando hanyut dalam suatu operasi,” kata Kolonel Kawilarang.

Maka Kawilarang memutuskan meninggalkan tempat itu. Kartosuwiryo pun lolos.

Kartosoewirjo baru tertangkap 4 Juli 1962, tujuh tahun setelah patroli yang digelar Kawilarang dan Idjon Djanbi. Pasukan yang berhasil menangkap Kartosoewirjo Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi, di bawah Komandan Kompi Letnan Dua (Letda) Suhanda.

Kartosoewirjo diadili secara kilat dan ditembak mati di sebuah pulau di Kepulauan Seribu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.