Islam Nusantara: Agar Tidak Salah sangka

Islam Nusantara: Agar Tidak Salah sangka

Islam Nusantara memang seksi untuk dibicarakan. Isu ini memancing banyak pihak untuk ikut bersuara, baik sekedar nimbrung berbicara, memberikan gagasan, maupun berbagi tanggapan dan kritik. Semua orang dari berbagai level dan kelompok membicarakan isu ini; dari para ahli sampai orang yang duduki santai di pinggir kali. Ada yang mengapresiasi isu ini dan mendukungya dengan sepenuh hati, ada pula yang nyinyir antipasti, semuanya punya argumentasi masing-masing.

Jika setuju atau tidak setujunya berdasar argumentasi Ilmiah-rasional saya kira tidak masalah, namun jika setuju-tidak setuju hanya didasarkan pada sisi emosional-subyektif, ini baru masalah. Karena penilaian yang didasarkan pada sisi emosional biasaya hanya akan melahirkan reaksi suka-tidak suka, bukan setuju atau tidak setuju. Penerimaan atau penolakan yang didasari oleh logika yang tidak sehat pasti akan memunculkan argument yang tidak sehat pula. Tidak jarang, argument tidak sehat malah tersebar cepat di sosial media yang akhirnya membentuk opini dan sikap yang tidak sehat.

Tulisan ini saya buat karena keprihatinan atas menyebarnya argumen-argumen kontra-produktif, dimana argumen itu dibangun oleh dengan nafsu sesaat. Argument itu juga dibuat secara serampangan yang berujung pada kebencian atas sebuah gagasan besar.

Islam Nusantara adalah Istilah untuk menyebut sebuah gagasan besar, gagasan peradaban Islam yang damai dan berperadaban. Islam Nusantara bukanlah gagasan politik atau gerakan untuk kepentingan sesaat. Terma “Islam Nusantara” memang dijadikan tema besar muktamar organisasi Islam terbesar di dunia “Nahdlatul Ulama”, akan tetapi itu bukan berarti bahwa gagasan ini hanya akan digunakan sesaat setelah muktamar usai, gagasan ini telah dimulai sejak organisasi itu berdiri tahun 1926.

Pemunculannya sebagai tema muktamar adalah semacam peneguhan kembali pentingnya membangun Islam dan NKRI dalam koridor Islam Nusantara. Islam Nusantara adalah jalan untuk membangun Indonesia sebagai model bagi dunia tentang bagaimana Negara berelasi dengan agama dan pemeluknya.

Kali ini saya ingin mengulas Islam nusantara sesuai posisi dan keahlian saya. Sebagai pengurus NU yang banyak belajar tata bahasa Arab klasik. Saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk melihat Islam Nusantara ini secara sederhana dengan pendekatan Bahasa. Secara Bahasa, Islam Nusantara adalah kata majemuk yang terdiri dari Islam dan Nusantara. Kata “Islam” adalah head(inti frase) sedangkan kata Nusantara adalah modifier (penjelas frasa).

Kata majemuk dalam Bahasa Arab sering disebut Tarkib. Ada sekurangnya lima tarkib dalam Bahasa Arab, yakni Tarkib Washfy, Tarkib Idlafi, Tarkib ‘Athaf Ma’thuf, Tarkib ‘Adady dan Tarkib Mazjiy. Jika dikaji dari sisi ini, maka terma Islam Nusantara bisa masuk dalam kategori Tarkib Washfy atau Tarkib Idlafy. Asumsi Islam Nusantara sebagai tarkib washfy atau Idlafymenimbulkan perbedaan makna dan pemahamn turunan yang ditimbu   lkan.

Pertama, pengertian tarkib washfy adalah pola frasa yang terdiri dari dua kata atau lebih, dimana kata yang pertama adalah kata benda sementara kata yang kedua adalah kata sifat. Contoh dalam Bahasa Indonesia adalah kata “baju baru”, “lagu klasik”, “Islam ramah” dan sebagainya. Jika Islam Nusantara adalah tarkib washfy, maka kata Nusantara adalah kata sifat, sehingga Islam Nusantara bermakna Islam yang Nusantara; berkarakter Nusantara, bukan berkarakter Timur Tengah, Arab dan sebagainya.

Sumber : jalandamai.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.