Aceh, Kopi, dan Lain-lain

Aceh, Kopi, dan Lain-lain

Pada Selasa sore, 18 November lalu, saya menginjakkan kaki di Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh. Mendung masih menggayut di langit. Hari itu di benak saya banyak rencana yang ingin saya tuntaskan selama di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Selain ingin menikmati kopi Gayo yang nikmat, saya juga kepingin napak tilas menyusuri jejak “orang Aceh”.

Hal pertama tentu akan mudah saya dapatkan selama di Aceh. Warung-warung kopi dan kafe, dapat saya jumpai setiap saat, sehingga saya bisa minum berteguk-teguk kopi hingga kembung sekalipun. Sementara untuk menyusuri jejak sejarah orang Aceh, adalah perjuangan yang tidak gampang. Tiap orang yang saya temui di Banda Aceh, tak ada yang memuaskan keingin-tahuan saya mengenai asal muasal warga bangsa yang menempati bumi Serambi Aceh itu.

Baiklah, untuk urusan melacak jejak sejarah orang Aceh rasanya tak tepat untuk waktu sekarang. Jadwal perjalanan saya cukup padat selama di bumi Aceh. Hari pertama dan kedua di Banda Aceh untuk mengikuti simposium kopi, hari berikutnya ke Bireun dan Lhokseumawe, dan berakhir di Takengon.

Maka keesokan harinya, saya pun datang ke sebuah hotel berbintang lima untuk mengikuti pembukaan simposium internasional tentang kopi. Selain acara seremoni, huburan, ada juga diputar film mengenai kopi. Tapi saya lebih tertarik untuk berbincang2 dengan Yusianto, 50, yang mengaku sebagai peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jembar. DIa adalah salah satu peserta Simposium Kopi Internasional yang berlangsung di Banda Aceh, 19-21 November 2014.

Aceh, Kopi, dan Lain-lain

Untuk memenuhi rasa keingintahuan yang sudah lama tersimpan, sayanpun langsung bertanya mengenai kopi yang paling nikmat. Yusianto langsung menjawab, “Kopi Gayo!”
Yusianto mengemukakan, tak heran jika kopi gayo dimninati oleh masyarakat luar, karena citarasa kopi gayo memang salah satu kopi terbaik di dunia.

Pendapat Yusianto tentu tidak main-main, karena, selain sebagai peneliti, dia juga bekerja sebagai pencicip. Yus mengatakan, dirinya sudah mencicipi semua kopi yang ada di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Wamena di Papua.

Selanjutnya, di antara hunyi hujan yang mengguyur Banda Aceh malam itu, kami pun terlibat obrolan hangat mengenai kopi. Yusianto bilang, Indonesia memiliki tiga jenis kopi, robusta, arabica, dan ekselsa. Kopi terakhir itu di Jawa disebut kopi nongko.

Secara rinci, Yusianto memaparkan sebaran tiga jenis kopi di atas. Kopi arabica 25 persen berpusat di gayo. Selebihnya di mandailing, yang tua java kopi atau raung kopi, toraja kopi, enrekang, kerinci, bengkulu. Jawa barat ada pendatang baru yan pesat di pengalengan, malabar. Jawa tengah di temanggung kita sebut sindonro sumbing kopi. Ke timur ada bali kintamani kopi, flores bajawa kopi, manggarai kopi, baliem highland kopi, mona mane nabire.

Sementara Robusta paling banyak di segitiga sumbagsel, lampung, sumsel dan bengkulu. Ada juga di jateng, jatim, bali, dan manggarai. Sumbagsel 50 persen.
Librica atau ekselssa terutama di daeraah yg sulit, daerah marjinal, daerah rawa2, gambut, makanya dulu transmigran dikaasih bibit kni, di kalimantan, jambi, tanjung jabung. Di samping itu, banyak digunakan sebzgai tanaman pagar tanaman kopi lainnya. Citarasanya kurang familier, skrg harganya lebih tinggi dari robusta tapi lebih rendah dari arabica.

Karakteristik Arabica memiliki keasaman, manis, diperkaya oleh aroma2 lain, rempah2, kapulaga karena pengaruh tanah.  Robusta kalo dari segi aroma lebih kecil, dia lebih cokliti, body atau memiliki kekentalan kopi. Librica rasanya speerti rasa sayur, agak langu, ada rasa aneh mirip karet. Tapi ada yang berasa manis. Yang paling banyak di tanjung jabung.

Ada rentang ciri2 kopi yg paling enak, Yang paling penting adalah terbebas dari cacat citrasa, seperti bau jamur, bau tanah, bau busuk. Tapi kalau dia bawain dari kopi kita sebut bukan cacat. Kalau standar kopi biasanya melalui kontes, kemrin diadakan di semarang. Kebetulan yang tertinggi nilainya adalah adabica kerinci, arabica temanggung. Adanjuga lelang kopi indonesia, yang tertinggi dari gayo nilainya 87  termasuk kopi spesial tingkat tinggi. Yang paling disukai di seluruh dunia adalah kopi gayo dan toraja. Tapi kalau peminum kopi lama lebih suka meminum java kopi.

Hujan belum reda juga, padahal acara pembukaan simposium sudah berakhir. Saya pun sudah berpisah dengan Yusianto. Satu-satunya kegiatan yang paling menarik padancuaca gerimis seperti ini adalah ngopi. Pilihannya adalah sebuah warung kopi di seberang hotel yang konon enak untuk nongkrong.

Bersama beberapa teman dari Aceh, saya pun berlari2 kecil menuju warung kopi. Sebagian besar kawan-kawan memesan kopi hitam tanpa gula, sementara saya tertarik untuk mencoba kopi sanger, racikan kopi hitam dengan susu kental manis.

Maka di antara gerimis yang temaram pada Rabu malam itu, dari warung kopi tempat kami ngobrol, sesekali terdengar seruputan dari gelas-gelas kopi yang beradu degan bibir. Sayan pun mencobanya dengan seruputan yang tak kalah dahsyatnya. Srrrrrrppppp…. ah……

Kopi sanger yang manis dengan latar belakang rasa pahit yang ringan dari kopi arabica gayo, menyempurnakan malam saya di Banda Aceh. ESok kami akan meneruskan perjalanan ke Bireun, sebuah wilayah di Pantai Utara Barat Provinsi NAD

Sumber : Kompas 21 Desember 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.